Pada dasarnya era masehi merupakan era yang dihitung
semenjak kelahiran Yesus atau 1 masehi. Dirancang pada tahun 525 M oleh
Dionysius Exiguus seorang biarawan Romawi, yang menggunakannya untuk menghitung
tanggal dari Festival paskah umat Kristiani. Penetapannya sendiri baru terjadi
pada tahun 532 atau 248 era Romawi yang pertama kali digunakan untuk penyusunan
daftar hari paskah.
Era Romawi atau tepatnya era
kaisar Diocletian (kaisar Romawi pada saat Dionysius) sendiri sudah dimulai
jauh sebelumnya dihitung semenjak kelahiran kota Roma yaitu 753 SM tepatnya 21
April 753 SM. Tahun tersebut menjadi awal dari tahun Romawi yang dikenal
sebagai Anno Urbis Conditae (AUC).
Pada tahun 241 era Romawi
kaisar Diocletian memerintahkan seorang biarawan Romawi bernama Dionysius
Exiguus untuk menyusun daftar hari Paskah. Suatu daftar yang disusun
berdasarkan era Romawi atau kaisar Diocletian pada saat tersebut. Dionysius
akhirnya melakukan beberapa kajian dan menemukan ide untuk menyusun daftar hari
Paskah tersebut menggunakan era Yesus daripada era Romawi kaisar Diocletian,
setelah beberapa kajian yang mendalam akhirnya ia berkesimpulan bahwa 241 era
Romawi / Diocletian (pada saat ia menyimpulkan) adalah tahun 525 semenjak
kelahiran Yesus Kristus. Lalu pada tahun 247 era Romawi, Dionysius akhirnya
menetapkan tahun 248 era Romawi sebagai tahun 532 era Yesus atau era Masehi.
Pada beberapa masa sesudah
Dionysius sendiri telah dilakukan beberapa kajian yang menemukan bahwa ternyata
perhitungan yang dilakukan Dionysius tidak akurat karena menurut taksiran
kelahiran Yesus adalah empat tahun lebih awal daripada perhitungannya. Namun
terlepas dari ketidakakuratan tersebut, era Masehi telah ditetapkan, yang
meskipun pada awalnya tidak semua negara khususnya negara Katholik mau mengakui
serta mengakui serta menggunakannya. Portugal tercatat negara Katholik yang
paling akhir menerapkan era Masehi yaitu pada tahun 1422 masehi.
Penetapan 1 Januari sebagai
tahun baru sendiri pada awalnya tidak seragam misalnya Romawi yang menetapkan
tahun baru pada 1 Maret (Martius) yang dikemudian hari diganti ke 15 Maret dan
akhirnya pada kepemimpinan Julius Caesar diganti lagi ke tanggal 1 Januari.
Tidak berakhir sampai disitu, pada masa kaisar Diocletian tahun baru dirayakan
setiap tanggal 29 Agustus.
Di Inggris tahun baru
dirayakan setiap tanggal 25 Maret, sedangkan di Venesia setiap tanggal 1 Maret,
Rusia pada tanggal 1 September, Perancis pada hari Paskah, pengecualian pada
masa Republik dimana tahun baru di Perancis dirayakan setiap tanggal 22
September, sebagian Eropa merayakan tahun baru pada tanggal 25 Desember,
sedangkan sebagian lagi Eropa timur merayakannya pada tanggal 1 September.
Penyeragaman tahun baru ke
tanggal 1 Januari sendiri baru terjadi secara berangsur - angsur dan memakan
waktu yang cukup lama, misalnya di Venesia semenjak tahun 1522, Swedia sejak
tahun 1529, Jerman sejak tahun 1544, Spanyol dan Portugal sejak tahun 1556,
Prusia (Sebelum melebur menjadi Jerman, ie: Estonia, Lithuania, Latvia),
Denmark dan Norwegia sejak tahun 1559, Perancis sejak tahun 1564, Lorraine
sejak 1579, Belanda sejak tahun 1583, Skotlandia sejak tahun 1600, Rusia sejak
tahun 1700, Tuscany sejak tahun 1721, dan Inggris semenjak tahun 1752.
Mungkin mudah saja bagi suatu
negara untuk mengganti sistem penanggalannya (untuk kepentingan internal) namun
tidak bisa dihindari bahwa penanggalan umum yang berlaku dalam kaitannya dengan
tata cara pergaulan dengan bangsa lainnya membutuhkan kesepakatan bersama yang
berlaku secara internasional guna memudahkan kerjasama dalam berbagai bidang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar